ANALISIS SIKAP KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN SEPEDA MOTOR MEREK SANEX DAN KANZEN DI KOTA MALANG

The Analysis Of Customer’s Attitude In Decision Making Of Purchasing Sanex And Kanzen Branded Motorcycle In Malang Regency

Noorhudha Muchsin

Universitas Islam Malang

S.M. Kiptiyah

Fakultas Ekonomi

Universitas Brawijaya Malang

Suradi Martawidjaja

Fakultas Ekonomi

Universitas Brawijaya Malang

UMM yang berdiri tahun 1964 berlokasi di Malang, Jawa Timur, sekitar 98km di sebelah selatan Surabaya. Malang merupakan daerah pegunungan yang dikelilingi empat gunung, yaitu: Panderman, Arjuno, Wilis dan Semeru. Wilayah dengan ketinggian sekitar 500 mdpl ini mempunyai hawa dingin-sejuk dengan suhu rata-rata berkisar 23,37oC – 30,01oC. Dengan kondisi alam seperti ini, Malang dikenal sebagai Kota Bunga dan Kota Pendidikan yang banyak dituju oleh mahasiswa dari seluruh penjuru negeri, dan bahkan mahasiswa asing dari semua belahan dunia.


ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan berdasarkan atas kenyataan bahwa banyak sekali merek sepeda motor yang beredar dipasar. Adanya pengaruh krisis ekonomi yang melanda Indonesia, dapat menyebabkan perubahan pola perilaku konsumen. Keadaan ini mengharuskan produsen sepeda motor melakukan penyesuaikan kembali terhadap program pemasaran yang telah disusun. Sikap konsumen terhadap produk sangat penting artinya bagi perusahaan dalam pembuatan program pemasaran serta ada anggapan umum bahwa sikap konsumen merupakan faktor yang kuat untuk memprediksi perilaku konsumen, meramalkan permintaan produk pada masa yang akan datang dan untuk mengembangkan program pemasaran secara tepat.

Tujuan penelitian ini adalah : (a) untuk mengetahui dan menganalisis sikap konsumen dalam pembelian sepeda motor merek Sanex dan Kanzen; (b) untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh lingkungan sosial konsumen terhadap norma subyektif dalam melakukan keputusan pembelian terhadap produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen; (c) untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan sikap konsumen terhadap produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen.

Penelitian dilakukan di Kota Malang, Jawa Timur, dari tanggal 28 Oktober 2002 sampai dengan tanggal 3 Desember 2002 terhadap 100 responden sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah “purposive”, sedangkan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Metode yang digunakan adalah skala beda semantik. Atribut yang dipertimbangkan adalah harga, model, irit bahan bakar, performansi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label, serbaguna, sedangkan variabel norma subyektif yang digunakan adalah anggota keluarga, orang lain, relasi dan penjual. Pengujian penelitian ini menggunakan model Fishbein, Analisis Faktor, Analisis Regresi dan Uji Mann-Whitney U.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) konsumen memiliki sikap positif terhadap produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen. Atribut harga memiliki skor positif yang paling tinggi dibanding dengan skor atribut lainnya untuk masing-masing sepeda motor baik Sanex maupun Kanzen; (2) lingkungan sosial konsumen mempengaruhi norma subyektif konsumen dalam melakukan keputusan pembelian produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen. Variabel yang dominan untuk merek Sanex adalah anggota keluarga, sedangkan untuk merek Kanzen variabel yang dominan adalah penjual; (3) selain itu juga, tidak terdapat perbedaan sikap konsumen terhadap produk sepeda motor antara merek Sanex dan Kanzen dengan nilai Sig. Z diseluruh atribut sikap bernilai > dari a = 0,05. (Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata kedua kelompok ini memiliki kesamaan sikap dalam pembelian sepeda motor merek Sanex atau Kanzen).

SUMMARY

This study is conducted based on the fact that there are many motorcycle brands distributed in the market. The effect of economic crisis striking Indonesia caused the change of attitude pattern of the customers. This condition make motorcycle manufactures rearrange marketing program which has been set up. Customer’s attitude toward a product has very important meaning for the manufacturer in creating marketing program, and there is general assumption that the customer’s attitude serves as strong factor to predict customer’s behavior, to predict product demand in the future and to develop appropriate marketing program.

The purpose of this study is : (a) to determine and analyze the customer’s attitude in purchasing Sanex and Kanzen branded motorcycle; (b) to determine and analyze the effect of customer’s social environment toward subjective norm in decision making of purchasing Sanex and Kanzen branded motorcycle; (c) to find out and analyze different attitude of the customer toward Sanex and Kanzen branded motorcycle products.

This study was carried out in Malang Regency, East Java, from October 28 2002 to December 3, 2002 toward 100 respondent as the sample of the study. The sampling technique is purposive sampling, meanwhile the data collection applied interview and questionnaire techniques. The method applied is semantic variance scale. The attribute which is considered is price, model, fuel saving, machine performance, after sales service, color, brand, label, multipurpose; meanwhile subjective norm variable applied is family member, another people, colleagues and salesman. The examination of this study applied Fishbein Model, Factor Analysis, Regression Analysis and Mann-Whitney U Test.

The result of this study indicated that : (1) customers have positive attitude toward Sanex and Kanzen branded motorcycle product. The attribute of price has the highest positive score compared with another attribute score for each motorcycle, either Sanex or Kanzen; (2) customer’s social environment influences subjective norm of the customer in decision making of purchasing Sanex and Kanzen branded motorcycle. The dominant variable for Sanex branded motorcycle is family member, meanwhile for Kanzen branded motorcycle, the dominant variable is the salesman; (3) besides there is no different attitude of the customers toward motorcycle products between Sanex and Kanzen with significance value Z for all attribute of attitude has the score > a = 0.05. (The result of analysis indicated that the average of both group has similar attitude in purchasing Sanex or Kanzen branded motorcycle.


I. PENDAHULUAN

Latar Belakang Permasalahan

Kini kita menghadapi suatu era baru yang ditandai oleh adanya kecenderungan globalisasi dunia sebagai akibat semakin banyaknya negara yang melaksanakan liberalisasi serta reformasi ekonomi yang ditunjang pula dengan majunya teknologi komunikasi dan transportasi. Globalisasi sendiri mengandung pengertian bahwa setiap negara bahkan setiap bisnis dan perusahaan, menghadapi persaingan global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Globalisasi telah mengubah secara drastis pola produksi dari perusahaan-perusahaan multinasional. Sejalan dengan adanya perubahan tersebut, kerjasama multilateral dan regional semakin banyak dikembangkan guna mengantisipasi perkembangan yang sedang dan akan terjadi di masa mendatang.

Perkembangan industri otomotif di era global ini juga mengalami suatu lonjakan yang luar biasa, ini bisa ditunjukkan dengan membanjirnya produk-produk otomotif terutama sepeda motor yang berasal dari Cina yang memasuki pasar Indonesia.

Potensi pasar sepeda motor di Indonesia sangat besar dan merupakan produsen sepeda motor terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India. Pada tahun 2002 ini, Indonesia akan memproduksi dan memasarkan 2,5 juta unit sepeda motor, sementara Cina 12,5 juta unit sepeda motor, dan India 5 juta unit sepeda motor (Kompas, 13 Juli 2002).

Sepeda motor produksi Indonesia telah memasuki pasar ekspor, yaitu ke negara-negara ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina), Argentina, Yunani serta Bulgaria. Sepeda motor yang dipasarkan di dalam negeri pada dasarnya adalah produk Indonesia, meskipun menggunakan merek-merek asing. Sebab, sepeda motor tersebut kandungan lokal (local content)-nya 85 persen. Mereknya bisa merek atau lisensi asing, tetapi sebenarnya adalah sepeda motor Indonesia karena yang membuat putra-putri Indonesia. Penggunaan merek atau lisensi asing, hanya bagian dari strategi pemasaran, dan jika merek-merek itu diganti maka akan merugikan secara pemasaran. Dalam hal ini yang sangat penting bukan mereknya, tetapi nilai tambah nasional yang luar biasa tinggi yang dapat kita rasakan.

Industri sepeda motor dalam negeri memiliki dampak berganda (multiplier effect) yang sangat besar. Saat ini ada 300.000 sub-kontraktor yang terlibat dalam industri sepeda motor dalam negeri, dimana sekitar 150.000 diantaranya adalah usaha kecil, sementara karyawan dari seluruh anggota Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencapai 150.000 orang (Kompas, 13 Juli 2002).

Pertumbuhan penjulaan sepeda motor Indonesia dalam dua tahun (2000-2002) ini memang cukup menggembirakan. Tahun 2001 lalu, penjualan sepeda motor telah melampaui penjualan sepeda motor sebelum terjadi krisis ekonomi (1997). Jika tahun 1997 penjualan sepeda motor mencapai 1,80 juta unit, tahun 2001 telah mencapai 1,807 juta unit sepeda motor. Tahun ini (2002), penjualannya akan naik sampai 50 persen, ini berarti keterpurukan industri sepeda motor di Indonesia sejak mengalami krisis ekonomi, kini sudah teratasi (Jawa Pos, 23 Juli 2002).

Sikap sebagai salah satu faktor lingkungan internal, dapat mempengaruhi seseorang mengambil keputusan membeli produk. Sikap konsumen merupakan respon atau penilaian yang diberikan konsumen secara konsisten, konsekuen,menguntungkan atau tidak menguntungkan, positif atau negatif, suka atau tidak suka, setuju atau tidak terhadap suatu obyek. Mengetahui sikap konsumen terhadap suatu produk merupakan informasi yang sangat berharga bagi manajer pemasaran, karena dengan mengetahui sikap dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan segmentasi pasar. Sikap dapat dicerminkan melalui apa yang konsumen pikirkan, rasakan dan apa yang dilakukan terhadap produk yaitu dengan mengetahui apakah konsumen bersikap positif atau negatif terhadap produk atau merek.

Sikap mempunyai arti penting dalam pembuatan keputusan pemasaran dan ada kecenderungan yang kuat untuk menganggap bahwa sikap itu sebagai faktor yang paling kuat untuk memprediksi perilaku dimasa yang akan datang serta dapat membantu perusahaan meramalkan permintaan produk serta mengembangkan program pemasaran yang tepat. Sikap seseorang terhadap atribut produk dapat berbeda-beda karena keyakinan serta evaluasi terhadap atribut yang dimiliki produk tersebut. Disamping itu masih ada faktor lain yang turut berpengaruh yang pada akhirnya akan menentukan minatnya membeli suatu produk. Dalam penelitian ini sikap merupakan faktor yang mendapatkan perhatian dari peneliti, karena sikap merupakan faktor yang tepat untuk memprediksi/meramalkan perilaku konsumen dimasa yang akan datang. Jadi dengan mempelajari sikap konsumen diharapkan dapat menentukan apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti sikap konsumen terhadap atribut produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen yang mengambil lokasi penelitian di kota Malang dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :

  1. Kedua merek sepeda motor tersebut (Sanex dan Kanzen) telah memiliki pabrik di Indonesia, Sanex di Serang, Jawa Barat dan Kanzen di Karawang, Jawa Barat. Dengan kata lain, kedua merek sepeda motor itu bukan hanya sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), tetapi telah menempatkan dirinya sebagai “Produsen” dan “Distributor” sekaligus.
  2. Kedua merek sepeda motor itu mempunyai latar belakang teknologi rancang bangun produksi yang relatif berbeda, Sanex memakai teknologi dari Cina, sedangkan Kanzen memakai teknologi dari Korea.
  3. Kedua merek sepeda motor tersebut menggunakan kandungan lokal (local content) yang cukup besar yakni diatas 60%, bahkan ditahun-tahun mendatang bisa dicapai kandungan lokal 100%. Oleh karena itu kedua sepeda motor itu patut disebut sebagai sepeda motor Indonesia (Leaflet Kanzen Motor, 2000 dan Sanex Motor, 2000)

Perumusan Masalah

Dengan memperhatikan kepribadian individu, kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat, keadaan sosial dan kebudayan serta lingkungan terutama kondisi jalan yang ada, maka perusahaan sepeda motor perlu mengerti karakteristik dan memahami sikap konsumennya. Karena sikap merupakan salah satu faktor internal atau psikologis yang cukup kuat pengaruhnya dan dapat digunakan untuk memprediksi kecenderungan perilaku pembelian masa datang (Engel, 1994). Oleh karena itu dengan memahami perilaku konsumen melalui sikapnya maka bisa diperoleh informasi yang bermanfaat bagi pengembangan strategi dan program-program pemasaran perusahaan.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah sikap konsumen terhadap atribut produk sepeda motor merek Sanex dan merek Kanzen.
  2. Apakah lingkungan sosial konsumen berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen.
  3. Apakah terdapat perbedaan sikap konsumen terhadap atribut produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui dan menganalisa sikap konsumen terhadap atribut, harga, model, irit bahan bakar, performansi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label, serbaguna pada produk sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen.
  2. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh lingkungan sosial konsumen yaitu anggota keluarga, orang lain, relasi dan tenaga penjual terhadap norma subyektif konsumen untuk melakukan pembelian produk sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen.
  3. Untuk mengetahui dan menganalisa perbedaan sikap konsumen terhadap atribut harga, model, irit bahan bakar, performansi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label, serbaguna pada produk sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen.

Manfaat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian ini, maka hasil penelitian ini diharapkan:

  1. Memberikan masukan dalam rangka perumusan strategi dan penentuan kebijaksanaan pemasaran tentang sepeda motor khususnya jenis sepeda motor bebek.
  2. Memberikan kontribusi bagi peneliti dalam mendukung penerapan teori sikap dari Fishbein.
  3. Dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi industri sepeda motor untuk lebih mengenal sikap konsumennya.
  4. Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk mengenali perilaku konsumen dalam pembelian produk sepeda motor bagi peneliti selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Journal of Advertising Research, Volume 36, March 1996

–    Peneliti   :  Naveen Donthu and David Gilliland

–    Judul      :  Observations: The Infomercial Shopper.

–    Variabel : Lingkungan sosial (umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan); Motivasi /Psikografis, (pemanfaatan waktu, kesadaran akan merek, kesadaran akan harga, keragaman produk, impulsif, inovatif, waktu menonton televisi infomercial & pertimbangan resiko); serta sikap (sikap negatif, sikap positif & sikap lebih positif terhadap periklanan).

–    Hasil Penelitian : – Kedua kelompok (info mercial shopper dan non shopper) mempunyai karakteristik yang sama secara sistematis, serta keduanya identik dalam umur, jenis kelamin, pendidikan & pendapatan.

–    Para infomercial “lebih sadar” dalam mencari kenyamanan, merek, harga, keragaman produk dibanding para non infomercial shopper, juga para infomercial lebih impulsif dan lebih inovatif, memiliki jam tonton teknis perminggu lebih banyak dibanding non shopperdan lebih banyak menerima resiko.

–   Infomercial shopper memiliki sikap yang lebih positif terhadap direct marketing (pemasaran langsung) serta priklanan dibanding non shopper.

Pengertian Sikap

Menurut Hawkins (1980), sikap dapat didefinisikan sebagai cara kita berfikir, merasakan dan bertindak terhadap beberapa aspek. Sedangkan Newcomb (dalam Mar’at, 1982) memberikan pengertian sikap adalah kesiapan, kesediaan untuk bertindak. Kinner dan Taylor (1987) menyatakan bahwa sikap adalah pemandangan individu berdasarkan pengetahuan penilaian dan proses orientasi tindakan terhadap suatu obyek atau gejala. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1992), sikap sebagai suatu evaluasi menyeluruh yang menunjukkan orang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan obyek atau alternatif yang diberikan. Sikap dalam kamus Marketing (1995) juga didefinisikan sebagai kondisi mental atau akal budi tertentu yang mencerminkan suatu pandangan pribadi yang negatif ata positif mengenai suatu obyek/konsep; atau suatu keadaan acuh tak acuh yang menunjukkan titik tengah (mid point) diantara dua titik ataupun dua pokok yang saling berlawanan.

Ada tiga komponen sikap menurut Allport (dalam Mar’at, 1982) adalah sebagai berikut:

1.  Komponen Kognitif (Pengetahuan)

Hal ini berhubungan dengan kepercayaan (beliefs), ide, dan konsep, misalnya pengetahuan tentang sesuatu atau obyek, keyakinan tentang obyek ataupun keyakinan evaluatif.

2.  Komponen Afektif (Emosional)

Hal ini menyangkut kehidupan emosional seseorang seperti perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu situasi, obyek, orang ataupun konsep.

3.  Komponen Konotif (Tendensi perilaku)

Hal ini merupakan kecenderungan bertingkah laku atau kehendak untuk bertingkah laku terhadap suatu obyek.

Dari berbagai pengertian tentang sikap yang telah dijelaskan di atas, maka secara eksplisit dapat dikatakan bahwa membicarakan sikap adalah membahas hal-hal yang bersifat multidimensional. Sikap seseorang secara menyeluruh terhadap suatu obyek nampak sebagai fungsi dari:

  1. Kekuatan masing-masing dari sejumlah kepercayaan yang dipegang seseorang mengenai berbagai aspek dari obyek.
  2. Evaluasi yang diberikan pada setiap kepercayaan dalam hubungannya dengan obyek; dalam kaitan ini kepercayaan adalah kemungkinan yang diambil seseorang pada suatu pengetahuan yang dianggap benar.

Fungsi Sikap

Sikap menurut Loudon dan Bitta (1993) mempunyai empat fungsi:

1.  Fungsi Penyesuaian

Fungsi ini mengarahkan manusia menuju obyek yang menyenangkan atau menjauhi obyek yang tidak menyenangkan. Hal ini mendukung konsep utilitarian mengenai maksimasi hadiah atau penghargaan dan minimisasi hukuman.

2.  Fungsi Pertahanan Diri

Sikap dibentuk untuk melindungi ego atau citra diri terhadap ancaman serta membantu untuk memenuhi suatu fungsi dalam mempertahankan diri.

3.  Fungsi Ekspresi Nilai

Sikap ini mengekspresikan nilai-nilai tertentu dalam suatu usaha untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam sesuatu yang lebih nyata dan lebih mudah ditampakkan.

4.  Fungsi Pengetahuan

Manusia membutuhkan suatu dunia yang mempunyai susunan teratur rapi, oleh karena itu mereka mencari konsistensi, stabilitas, definisi dan pemahaman dari suatu kebutuhan yang selanjutnya berkembanglah sikap ke arah pencarian pengetahuan.

Faktor Pembentuk Sikap

Loudon dan Bitta (1993) juga menjelaskan bahwa sikap dapat dibentuk melalui tiga faktor, yaitu: (1) personal experience, (2) group associations, (3) influential others.

Pengalaman pribadi seseorang akan membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial. Tanggapan akanmenjamin salah satu dasar dari terbentuknya sikap. Syarat untuk mempunyai tanggapan dan penghayatan adalah harus memiliki pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologi.

Semua orang dipengaruhi pada suatu derajad tertentu oleh anggota lain dalam kelompok yang nama orang tersebut termasuk didalamnya. Sikap kita terhadap produk, ilmu etika, peperangan dan jumlah besar obyek yang lain dipengaruhi secara kuat oleh kelompok yang kita nilai serta dengan mana kita lakukan atau inginkan untuk asosiasi (kelompok). Beberapa kelompok, termasuk keluarga, kelompok kerja, dari kelompok budaya dan sub budaya, adalah penting dalam mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Pengaruh orang lain dianggap penting, orang lain merupakan salah satu komponen sosial yang dapat mempengaruhi sikap individu. Pada umumnya individu cenderung memilih sikap yang searah dengan orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini dimotivasikan oleh keinginan untuk beraviliasi.

Model Sikap Terhadap Obyek

Model sikap terhadap obyek secara khusus cocok untuk pengukuran sikap terhadap suatu produk atau merek tertentu (Fishbein dalam Schiffman dan Kanuk, 1994). Menurut model ini, sikap konsumen didefinisikan sebagai suatu fungsi dari penampilan dan evaluasi terhadap sejumlah keyakinan dari produk tertentu atau atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu produk atau merek tertentu (Schiffman dan Kanuk, 1994). Selanjutnya dalam model ini Fishbein (1975) mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap suatu obyek adalah fungsi dari keyakinan dia bahwa obyek tersebut berkaitan dengan atribut-atribut tertentu dan tanggapan evaluatif yang dikaitkan dengan keyakinan tersebut. Formulasi matematis dari model sikap terhadap obyek, oleh Fishbein dapat dirumuskan sebagai berikut:

A0 =

dimana :

A0 =   sikap terhadap obyek O (produk, merek, dan lan-lain)

bi =   keyakinan I tentang obyek O, yaitu: probabilitas subyektif bahwa dihubungkan pada atribut I

ei =   evaluasi dari atribut I

n      =   jumlah keyakinan

Dari uraian diatas, para konsumen akan memiliki sikap yang baik (favorable) terhadap suatu merek tertentu, jika mereka menilai tingkatan atribut yang dimilikinya positif dan cukup memuaskan, dan sebaliknya akan memiliki sikap yang tidak baik (unfavorable) terhadap merek tertentu, jika mereka merasakan bahwa atribut-atribut yang diinginkan tidak memuaskan atau terlalu banyak atribut yang negatif.

Kerangka Pikir Penelitian

Berdasarkan landasan teori tentang sikap yang yang dikembangkan oleh Martin Fishbein dan Ajzen yang berkaitan dengan teori multi atribut serta dikuatkan oleh beberapa penelitian terdahulu seperti Bentler dan Speckart (1979), Dhabolkar (1994), Alpert and Kamins (1995), Donthu and Gilliand (1996), Miller and Kean (1997) yang dapat dijadikan petunjuk serta acuan untuk melakukan peneltian tentang sikap konsumen.

Demikian pula beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Zulfa (1995), Sofian (1996), Sugih Arto P. (1998), Syamkhin (1999) merupakan landasan untuk menentukan atribut produk yang banyak dipertimbangkan oleh konsumen serta merupakan landasan dalam menentukan alat analisis penelitian ini.

Selain atribut-atribut yang pernah dikemukakan oleh para peneliti terdahulu, dalam penelitian ini penulis mencoba menambahkan beberapa atribut yaitu merek, label dan warna, yang menurut Stanton (1993) merupakan atribut yang banyak dijadikan pertimbangan oleh konsumen. Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan diatas, maka kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut:

Gambar 1 : Kerangka Pikir Penelitian

Dari gambar 1 di atas terlihat bahwa penelitian ini berangkat dari teori-teori yang ada, yakni teori tentang perilaku konsumen yang lebih mengarah dan menitikberatkan pada sikap konsumen terhadap atribut-atribut produk. Dari teori-teori tersebut yang ditunjang oleh beberapa penelitian terdahulu serta model sikap multi atribut yang digunakan untuk menganalisis sikap konsumen, maka akan didapatkan beberapa atribut dari produk sepeda motor bebek (non Jepang) merek Sanex dan Kanzen, yang menguasai pangsa pasar dibawah peringkat sepeda motor bebek Jepang yang bermerek Honda, Suzuki, Yamaha dan Kawasaki.

Berdasarkan penelitian-penelitian pendahuluan, serta penelitian terdahulu dan beberapa teori yang ada, maka dapat dikemukakan atribut-atribut produk sepeda motor bebek yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan membeli sepeda motor bebek. Atribut-atribut produk sepeda motor bebek yang dimaksud itu adalah: harga, model, irit bahan bakar, performansi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label dan serbaguna.

Dari atribut-atribut yang ada, maka dapat digunakan untuk mengetahui sikap konsumen terhadap produk yang diteliti. Sikap tersebut dapat berupa sikap positif atau sikap negatif terhadap produk sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen yang menjadi obyek penelitian.

Disamping itu kepercayaan (yang merupakan pengetahuan konsumen sebelum membeli sepeda motor) dan evaluasi (yang merupakan pengetahuan konsumen sesudah membeli sepeda motor) dapat membentuk sikap konsumen terhadap suatu produk (sepeda motor bebek). Demikian pula norma subyektif (yang dalam kaitan penelitian ini terdiri dari : keluarga, orang lain, relasi dan penjual) dapat terbentuk dari 2 hal yakni keyakinan dan motivasi yang berasal dari lingkungan sosial yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda motor bebek. Dari norma subyektif inilah, maka sikap konsumen terhadap produk sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen dapat terbentuk pula.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggambarkan mengenai proses kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan serta untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dikemukakan.

Rancangan penelitian ini dibuat untuk mengetahui latar belakang permasalahan yang dihadapi, konsep dasar pemikiran yang dijadikan acuan, pendekatan-pendekatan yang digunakan, hipotesis yang diajukan untuk menjawab permasalahan yang ada, teknik pengambilan atau pengumpulan data, serta analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini.

Rancangan penelitian ini merupakan bagian yang sangat penting di dalam metode penelitian, karena akan memberikan arti yang berguna dalam memecahkan permasalahan yang ada. Sedangkan data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah ditetapkan, diadakan kategorisasi melalui teknik pengukuran, sehingga mempunyai makna yang konkrit untuk menjawab permasalahan serta bermanfaat untuk menguji hipotesis. Manipulasi data berarti mengubah data mentah menajdi suatu bentuk yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan antar variabel/atribut.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah Kota Malang. Penentuan lokasi ini didasarkan atas berbagai pertimbangan, yakni: Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, merupakan kota pelajar/mahasiswa, disamping itu pertimbangan yang lain adalah waktu, biaya serta tujuan penelitian itu sendiri. Selanjutnya dalam penelitian ini akan mengambil sampel di wilayah Kecamatan Blimbing, Lowokwaru, Klojen, Sukun dan Kedung Kandang.

Populasi dan Teknik Pemilihan Sampel

Populasi

Populasi adalah sekelompok subyek yang dijadikan sumber penelitian (Winarno, 1994), sedangkan menurut Arikunto (1992) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah para pemilik pemakai sepeda motor merek Sanex dan Kanzen, utamanya yang bernomor polisi hitam (berplat hitam) di kota Malang. Populasi dalam penelitian ini merupakan konsumen akhir, bukan merupakan konsumen industri atau instansi/Kantor Pemerintah. Adapun yang menjadi pertimbangan dalam penentuan populasi ini adalah pemilik pemakai sepeda motor merek Sanex dan Kanzen yang sebelum melakukan pembelian telah memiliki informasi ataupun respons/tanggapan terhadap merek-merek tersebut beserta atribut-atribut yang menyertainya. Demikian pula setelah memiliki sepeda motor tersebut, mereka dapat melakukan evaluasi terhadap atribut-atribut sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen, dengan demikian dapat dianalisis sikapnya berkenaan dengan atribut-atribut produk yang ada.

Populasi dalam penelitian di Kota Malang ini, terbagi atas lima sub populasi yang masing-masing terletak di Kecamatan Blimbing, Lowokwaru, Klojen, Sukun dan Kedung Kandang. Pengambilan sample dalam penelitian ini harus sebanding dengan jumlah sub populasinya. Karena itu, perlu dicari factor pembanding dari tiap sub populasinya yang sering disebut “sample fraction (f)”, dengan cara membandingkan jumlah elemen tiap sub populasi dengan jumlah seluruh elemen populasi, sehingga di dapat masing-masing sample fraction-nya (Umar, 1997)

Teknik Pemilihan Sampel

Sampel adalah sebagian atau mewakili populasi yang diteliti, dalam menentukan sampel perlu dipertimbangkan antara lain: derajat keseragaman, prestasi yang dikehendaki, rencana analisa, tenaga, biaya dan waktu yang tersedia (Singarimbun, 1995).

Teknik pemilihan/pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan “purposive sampling”, dimana pengambilan elemen-elemen yang dimasukkan dalam sampel dilakukan dengan sengaja, dan dengan catatan bahwa sampel tersebut representatif atau mewakili populasi yang diteliti. Dalam purposive pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang “sudah diketahui sebelumnya” (Hadi, 1984). Teknik ini dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu (purpose= maksud/tujuan). Informasi yang mendahului tentang keadaan populasi sudah diketahui benar dan tidak perlu diragukan lagi, misalnya: diketahui dari hasil sensus ekonomi dan lain-lain, sehingga peneliti hanya mengambil beberapa daerah atau kelompok “kunci” (daerah industri dan daerah agraris; kota besar dan desa yang terpencil) yang disebut key areas, key groups, key clusters. Jadi tidak semua daerah atau kelompok diwakili ataupun diambil sampelnya (Marzuki, 1983). Purposive sampling dalam kaitan penelitian ini adalah berupa pengambilan data dengan jalan peneliti mengajukan daftar pertanyaan atau angket kepada konsumen atau pemilik pemakai sepeda motor bebek merek Sanex dan Kanzen, hal ini dilakukan supaya relevan dengan rencana penelitian dan agar sampel yang dipilih dapat didekati. Penentuan sampel menurut Malhotra (1996) minimal adalah empat atau lima kali jumlah variabel atau atribut yang ditentukan. Atas dasar pendapat ini, jumlah sampel yang diambil ditetapkan sebanyak 100 (seratus) responden yang dipilih menjadi 50 responden pemilik pemakai sepeda motor merek Sanex dan 50 responden pemilik pemakai sepeda motor merek Kanzen. Karena dalam penelitian ini jumlah variabel atau atribut yang ada adalah 9 (sembilan), maka jumlah responden adalah 9 x 5 = 45 responden, dan untuk memberikan hasil yang lebih akurat serta memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Malhotra, maka jumlah sampel yang diambil dibulatkan ke atas menjadi 50 responden. (dimana masing-masing merek sepeda motor diambil sebanyak 50 responden)

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Sikap Konsumen

Sikap konsumen terhadap atribut sepeda motor bebek adalah respon konsumen terhadap atribut sepeda motor bebek yang dinyatakan dalam tujuh pernyataan yaitu: sangat percaya, percaya, agak percaya, netral, agak tidak percaya, tidak percaya, dan sangat tidak percaya. Pengukurannya berupa sika positif dan sikap negatif.

Atribut produk Sepeda Motor

Adalah ciri-ciri yang melekat dari produk inti dan faktor-faktor pendukung yang berkaitan dengan produk sepeda motor, pengukurannya berupa ciri-ciri yang melekat pada produk sepeda motor tersebut. Dalam penelitian ini atribut yang dijadikan pertimbangan utama dalam pembelian sepeda motor ada 9 atribut, yang didapat dengan cara meranking dari angka 1 sampai angka 9 berdasarkan tingkat kepentingan yang dirasakan konsumen. Atribut-atribut itu adalah sebagai berikut:

  1. Harga adalah nilai tukar yang disetujui yang membentuk dasr yang penting bagi perjanjian dagang (jual beli). Dalam hal ini mencakup nilai pembelian sepeda motor, cara pembayaran dan kemudahan pembayarannya. Pengukurannya adalah murah atau mahal sesuai harga pasar.
  2. b. Model adalah yang yang meliputi penampilan yang tampak dari luar secara keseluruhan dari sepeda motor yang brsangkutan. Pengukurannya adalah menarik perhatian publik.
  3. c. Irit bahan bakar adalah meliputi jumlah jarak yang dapat ditempuh untuk menghabiskan 1 (satu) liter bahan bakar. Pengukurannya adalah kilometer yang dapat ditempuh.
  4. d. Performansi mesin yaitu meliputi keandalan teknologi/mesin, daya tahan lama dipakai, daya tarik, daya daki/menanjak, spontanitas kecepatan serta daya rem. Pengukurannya adalah canggih dan kuat.
  5. e. Layanan purna jual meliputi pelayanan/service, kemudahan melakukan perbaikan dan perawatan mesin pada bengkel-bengkel resmi merek sepeda motor yang bersangkutan, termasuk kesediaan suku cadangnnya. Pengukurannya adalah memuaskan para konsumen sepeda motor bebek.
  6. f. Warna adalah suatu jenis warna yang dimiliki oleh produk sepeda motor, pengukurannya adalah menarik dan banyak pilihan.
  7. g. Merek adalah nama, istilah, inisial, atau kombinasi unsur-unsur tersebut yan dirancang untuk mengidentifikasi produk sepeda motor bebek, pengukurannya adalah terkenal.
  8. h. Label adalah bagian dari produk sepeda motor bebek yang membawa informasi verbal tentang produk, pengukurannya adalah menarik perhatian dan mudah diingat.
  9. i. Serbaguna adalah produk sepeda motor bebek dapat digunakan untuk berbagai keperluan (bekerja, sekolah/kuliah, rekreasi dan lain-lain), pengukurannya adalah banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari memiliki sepeda motor tersebut.

Variabel Keyakinan Normatif dan Motivasi

  1. Anggota keluarga: adalah orang yang tinggal bersama dalam satu rumah yang disebabkan karena ada ikatan perkawinan, hubungan darah atau adopsi yang dapat memberikan pengaruh dan motivasi terhadap pembelian, pengukurannya saran yang pernah diterima dari ayah, ibu, saudara, anak, suami/istri.
  2. Orang lain: adalah orang yang dikenal atau tidak dikenal yang telah memberikan informasi tentang produk, pengukurannya saran serta informasi yang pernah diterima dari orang yang dikenal atau tidak dikenalnya.
  3. Relasi: adalah orang yang telah dikenal sebelumnya oleh konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, pengukurannya saran serta informasi dari orang yang telah dikenal sebelumnya.
  4. Tenaga penjual: adalah orang yang menjual atau menawarkan produknya kepada responden, pengukurannya saran atau informasi yang pernah diterima dari penjual produk sepeda motor.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Penelitian

Sepeda motor masih merupakan alat transportasi dasar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia serta merupakan sarana transportasi yang ekonomis dan efisien saat ini dan dimasa depan. Sepeda motor sebagai alat yang fleksibel, banyak sekali beredar dipasar dengan berbagai ragam merek. Hal ini dapat menyebabkan tingkat persaingan yang sangat ketat baik menyangkut merek, jenis maupun produk. Terlebih lagi dengan hadirnya berbagai merek sepeda motor cina (mocin), yang ikut meramaikan pasar sepeda motor di Indonesia. Untuk itulah, perlu dilakukan inovasi baik dalam hal promosi, harga, distribusi maupun produk. Dilain pihak konsumen sepeda motor lebih leluasa memilih produk maupun merek sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya, namun keleluasaan ini dapat menyebabkan konsumen bingung dan tidak selalu puas dengan apa yang telah dipilih ataupun dibelinya. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan sikap konsumen yang positif maupun negatif terhadap produk yang ditawarkan oleh berbagai produsen sepeda motor.

Sikap konsumen ini muncul berdasarkan pandangan terhadap produk dan proses belajar, baik dari pangalaman pribadi maupun berasal dari pengalaman orang lain. Oleh karena produk banyak mempunyai atribut, maka konsumen akan banyak mempunyai informasi yang dapat membentuk kepercayaan tentang atribut-atribut produk. Sikap positif atau negatif juga dapat dibentuk berdasarkan kepercayaan terhadap atribut-atribut ini. Menurut model Fishbein, sikap keseluruhan seseorang terhadap obyek atau produk berasal dari kepercayaan dan evaluasi tentang berbagai atribut produk.

Tesis ini ditulis berdasarkan data hasil penelitian yang mengambil lokasi di Kota Malang, yakni meliputi Kecamatan Blimbing, Kecamatan Lowokwaru, Kecamatan Klojen, Kecamatan Kedungkandang dan Kecamatan Sukun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2002 sampai dengan tanggal 3 Desember 2002. namun sebelum dilakukan penelitian, penulis sudah melakukan penelitian pendahuluan pada bulan Agustus 2002. Obyek penelitian ini adalah konsumen/pembeli yang sekaligus pemilik/pengguna sepeda motor merek Kanzen dan Sanex, dengan ketentuan minimal telah berusia 25 tahun.

Penelitian ini diawali dengan mencari informasi yang sebanyak-banyaknya kepada Dealer Utama Wilayah Malang untuk sepeda motor merek “Sanex” (PT Rengganis Perdana Argonindo) yang beralamat di Jalan Letjen Sutoyo 11 Telpun (0341) 494332 Malang. Sedang untuk sepeda motor merek “Kanzen” (PT Semesta Citra Motorindo) yang beralamat di Jalan Letjen Sutoyo 58 Telpon (0341) 493286 Malang. Kedua merek sepeda motor tersebut di atas masing-masing telah memiliki Pabrik di Indonesia. Sepeda motor merek Sanex, pabriknya berada di Jalan Raya Industri Modern Kav. 30 C, Kawasan Industri Modern Cikande, Cikande, Serang 42186. Jawa Barat (PT Sanex Qianjiang Motor Internasional), untuk sepeda motor merek Kanzen pabriknya berada di Jalan Raya Karawang Timur KM 86, Desa Pancawati-Karawang, Jawa Barat.

Adapun besarnya populasi untuk masing-masing merek sepeda motor yang diteliti selama tahun 2002 adalah sebagai berikut:

–      Sepeda motor merek “Sanex”, sebesar = 516 unit (dengan perincian Kecamatan lowokwaru = 62 unit, Kecamatan Blimbing = 103 unit, Kecamatan Klojen = 165 unit, Kecamatan Sukun = 124 unit) dan Kecamatan Kedungkandang = 62 unit)

(Hasil wawancara dengan sales manager “Sanex” tanggal 20 Desember 2002)

–      Sepeda motor merek “Kanzen”, sebesar = 241 unit (dengan perincian Kecamatan Lowokwaru = 39 unit, Kecamatan Blimbing = 48 unit, Kecamatan Klojen = 96 unit, Kecamatan Sukun = 34 unit dan Kecamatan kedung Kandang = 24 unit).

(Hasil wawancara dengan sales manager “Kanzen” tangggal 20 Desember 2002)

Untuk mendapatkan besarnya sample dari tiap-tiap sub populasi (Kecamatan), maka dapat dihitung memakai cara membandingkan jumlah elemen tiap sub – populasi (Kecamatan) dengan jumlah seluruh elemen populasi, sehingga “sample fraction (f)” dapat ditentukan. Selanjutnya setelah f dihitung, kemudian dikalikan dengan besar sample untuk masing-masing merek sepeda motor (Sanex = 50 unit, Kanzen = 50 unit) maka :

*   Sepeda motor Sanex, dikecamatan Lowokwaru, f dapat dihitung = 62/516 = 0,12, dan berturut-turut Blimbing, f = 0,20; Klojen, f = 0,32; Sukun, f = 0,24; Kedung Kandang, f = 0,12.

*   Sepeda motor Kanzen, dikecamatan Loawokwaru, f dapat dihitung = 39/241 = 0,16, dan berturut-turut Blimbing, f = 0,20; Klojen, f = 0,40; Sukun, f = 0,14; Kedungkandang, f = 0,10

Maka besarnya sample untuk masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut:

Sanex   : Lowokwaru         : 0,12 x 50 = 6 unit

Blimbing              : 0,20 x 50 = 10 unit

Klojen                  : 0,32 x 50 = 16 unit

Sukun                  : 0,24 x 50 = 12 unit

Kedungkandang  : 0,12 x 50 = 6 unit

Kanzen : Lowokwaru         : 0,16 x 50 = 8 unit

Blimbing              : 0,20 x 50 = 10 unit

Klojen                  : 0,40 x 50 = 20 unit

Sukun                  : 0,14 x 50 = 7 unit

Kedungkandang  : 0,10 x 50 = 5 unit

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Suatu instrumen dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut dapat menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud dikenakannya instrumen tersebut. Sisi lain yang penting adalah kecermatan pengukuran, yaitu kecermatan dalam mendeteksi perbedaan-perbedaan kecil yang ada pada Variabel yang diukurnya. Pengukuran validitas pada instrumen ini dilakukan dengan korelasi product moment antara skor butir dengan skor skalanya. Koefisien korelasi dapat dianggap memuaskan jika melebihi 0,30. (Azwar:1998:153)

Menyusun suatu bentuk instrumen tidak hanya harus berisi pernyataan-pernyataan yang berdaya diskriminasi baik akan tetapi harus pula memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi. Reliabilitas artinya adalah tingkat keterpercayaan hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi, yaitu yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya. Reliabilitas merupakan salah satu ciri atau karakter utama instrumen pengukuran yang baik. Pada penelitian ini digunakan uji reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach. Sebuah intrumen dianggap telah memiliki tingkat kehandalan yang dapat diterima jika nilai koefisien reliabilitas yang terukur adalah lebih besar atau sama dengan 0,6 (Sekaran:287:1992, Malhotra:304:1996). Secara keseluruhan hasil pengujian validitas dan reliabilitas untuk masing-masing variabel nampak seperti tabel berikut ini :

Tabel 1. Validitas Dan Reliabilitas Atribut Sikap Pada Kelompok Kepercayaan

Atribut Kanzen Sanex

Keterangan

  • Harga
0,947 0,955 Valid
  • Model
0,912 0,925 Valid
  • Bahan Bakar
0,811 0,811 Valid
  • Mesin
0,947 0,955 Valid
  • Purnajual
0,946 0,950 Valid
  • Warna
0,928 0,946 Valid
  • Merek
0,935 0,935 Valid
  • Label
0,638 0,768 Valid
  • Serbaguna
0,857 0,891 Valid
Reliabilitas 0,959 0,968 Reliabel

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Tabel 2.  Validitas Dan Reliabilitas Atribut Sikap Pada Kelompok Evaluasi

Atribut
Kanzen Sanex Keterangan
  • Harga
0,873 0,902 Valid
  • Model
0,707 0,773 Valid
  • Bahan Bakar
0,702 0,723 Valid
  • Mesin
0,875 0,856 Valid
  • Purnajual
0,827 0,825 Valid
  • Warna
0,842 0,885 Valid
  • Merek
0,731 0,733 Valid
  • Label
0,341 0,553 Valid
  • Serbaguna
0,696 0,737 Valid
Reliabilitas 0,897 0,919 Reliabel

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Hasil uji validitas pada ke-9 attribut yang berhubungan dengan sikap pembelian menampakkan hasil uji yang baik (r> 0,3) dan juga memiliki kehandalan yang dapat diterima yaitu masing-masing bernilai lebih besar dari 0,6.

Tabel 3.    Validitas Dan Reliabilitas Atribut Norma Subyektif Pada Kelompok Keyakinan

Atribut
Kanzen Sanex Keterangan
  • Keluarga
0,975 0,972 Valid
  • Orang lain
0,905 0,924 Valid
  • Relasi
0,870 0,901 Valid
  • Penjual
0,891 0,909 Valid
Reliabilitas 0,914 0,929 Reliabel

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Tabel 4.  Validitas Dan Reliabilitas Atribut Norma Subyektif Pada Kelompok Motivasi

Atribut
Kanzen Sanex Keterangan
  • Keluarga
0,935 0,927 Valid
  • Orang lain
0,797 0,852 Valid
  • Relasi
0,631 0,774 Valid
  • Penjual
0,906 0,893 Valid
Reliabilitas 0,837 0,879 Reliabel

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Hasil uji validitas pada ke-3 attribut yang berhubungan dengan norma subyektif baik untuk keyakinan dan motivasi memberikan hasil uji yang baik (r>0,3) dan juga memiliki kehandalan yang dapat diterima yaitu masing-masing bernilai lebih besar dari 0,6.

Pengujian Hipotesis Pertama

Pada hipotesis ini akan diuji apakah terdapat sikap positif terhadap atribut harga, model, irit bahan bakar, performansi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label dan serbaguna pada produk sepeda motor bebek merek Kanzen dan Sanex. Pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis faktor. Analisis faktor adalah suatu teknik untuk menganalisis tentang saling ketergantungan (interdependence) dari beberapa variabel secara simultan dengan tujuan untuk menyederhanakan dari bentuk hubungan antar beberapa variabel yang diteliti menjadi sejumlah faktor yang lebih sedikit dari jumlah variabel yang diteliti. Analisis ini juga menggambarkan tentang struktur data dari suatu penelitian, artinya ingin diketahui susunan dan hubungan yang terjadi pada hubungan antar variabel.

Hasil Uji Interdependensi

Gugusan atau kumpulan pengamatan diijinkan untuk menggunakan analisis faktor jika terbukti saling interdependen. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan hasil tingkat signifikan matriks korelasi, nilai determinan, hasil uji Bartlett dan nilai KMO.

Sebuah koefisien korelasi dikatakan memiliki hubungan yang berarti jika nilai signifikan < (a=0,05). Dari hasil analisis pada lampiran bagian correlation matrix nampak bahwa dari sebagian besar dari 36 koefisien korelasi menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan (p<0,05). Hal ini juga didukung oleh nilai nilai determinan matriks korelasi yang mendekati nol yaitu sebesar 0,003982 untuk Kanzen dan 0,008891 untuk Sanex. Dari sudut pandang nilai determinan, beberapa variabel dianggap saling terkait jika nilai determinan pada matriks korelasinya mendekati nol.

Nilai KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) yang dihasilkan juga memiliki nilai yang cukup tinggi (lebih besar dari 0,5) yaitu sebesar 0,623 untuk Kanzen dan 0,769 untuk Sanex. Hal ini untuk menunjukkan adanya ukuran kecukupdekatan sampel. Demikian pula dengan hasil uji Bartlett yang memiliki hipotesis H0 bahwa menyatakan matriks korelasi (R) adalah tidak berbeda dengan matriks identitas (I) adalah tidak bisa diterima. Hal ini bisa dibuktikan dari nilai chi kuadrat pada uji sebesar 249,594 memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 untuk Kanzen. Sedangkan pada kelompok sepeda motor Sanex didapatkan nilai chi kuadrat sebesar 213,307 dengan nilai signifikan sebesar 0,000.

Hasil Ekstraksi

Pada analisis faktor akan diperoleh hasil transformasi 9 atribut ke bentuk lain yang disebut faktor sebanyak 9 buah. Setiap faktor yang terbentuk merupakan kombinasi linier variabel asalnya. Kombinasi linier ini dapat dirumuskan dalam model :

Fi = b1iA1 + b2iA2 + b3iA3 + . . . + b9iA9 ; i = 1,2,3, …,9

Setiap faktor memiliki kemampuan menjelaskan keragaman total yang berbeda-beda. Faktor pertama memiliki kemampuan menjelaskan yang lebih tinggi daripada faktor kedua. Faktor kedua memiliki kemampuan memjelaskan yang lebih tinggi dari faktor ketiga dan seterusnya. Karena sifat ini maka faktor yang akan digunakan adalah faktor yang memiliki nilai eigen lebih besar dari 1. Dari bentuk persamaan di atas maka akan diperoleh bentuk kebalikannya yang dapat dirumuskan dalam model:

Xi = b1iF1 + b2iF2 + b3iF3 + . . . + b9iF9

Jumlah kuadrat dari seluruh koefisien faktor yaitu b1i 2 + b2i2 + . . . + b18i2 disebut dengan nilai komunalitas, yaitu nilai yang menunjukkan proporsi keragaman total dari sebuah variabel yang dapat dijelaskan oleh common faktor. Berikut hasil ekstraksi seluruh faktor yang terbentuk dan perubahan nilai komunalitas yang terjadi.

Tabel 5.    Hasil Ekstraksi Pada Sepeda Motor Kanzen

Faktor Nilai Eigen %Keragaman Total Attibut Komunalitas
1 3,482 38,690 A1 0,898
2 1,923 21,370 A2 0,583
3 1,157 12,853 A3 0,724
4 0,892 9,912 A4 0,898
5 0,596 6,625 A5 0,810
6 0,446 4,951 A6 0,837
7 0,281 3,120 A7 0,788
8 0,180 2,003 A8 0,677
9 0,043 0,476 A9 0,547

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Faktor yang terekstrak berjumlah 3 faktor dengan tingkat kemampuan untuk menjelaskan keragaman total sebesar 72,913%. Dari hasil di atas tahapan berikutnya adalah memcermati hasil bentukan faktor yang terjadi berdasarkan loading setiap variabel dalam suatu faktor. Sebuah variabel dianggap dapat mewakili faktor yang terbentuk jika memiliki nilai loading lebih besar dari 0,5. Tabel di bawah ini menunjukkan besarnya koefisien tertinggi pada masing-masing variabel di setiap faktor setelah dilakukan rotasi varimax. Tabel berikut ini juga akan menunjukkan susunan pertimbangan yang terjadi atas pembentukan sikap pada pembeli sepeda motor Kanzen.

Tabel 6.    Hasil Loading Faktor Sepeda Motor Merek Kanzen

Faktor Atrribut %Keragaman Total Loading
1 Harga 38,690 0,927
Mesin 0,916
Bahan Bakar 0,801
Model 0,748
2 Purna Jual 21,370 0,836
Merek 0,779
Warna 0,652
3 Label 12,853 0,803
Serbaguna 0,614

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Ringkasan tabel diatas menunjukkan bahwa pertimbangan utama pada konsumen sepeda motor Kanzen adalah harga, mesin, bahan bakar dan model. Selanjutnya perhitungan analisis faktor yang berhubungan dengan data responden dari kelompok sepeda motor Sanex akan diuraikan di bawah ini.

Tabel 7.    Hasil Ekstraksi Pada Sepeda Motor Sanex

Faktor Nilai Eigen %Keragaman Total Atribut Komunalitas
1 3,744 41,597 A1 0,881
2 1,627 18,077 A2 0,692
3 1,173 13,032 A3 0,581
4 0,753 8,365 A4 0,845
5 0,617 6,860 A5 0,773
6 0,416 4,625 A6 0,731
7 0,328 3,648 A7 0,802
8 0,269 2,985 A8 0,685
9 0,073 0,810 A9 0,555

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Faktor yang terekstrak berjumlah 3 faktor dengan tingkat kemampuan untuk menjelaskan keragaman total sebesar 72,707%. Dari hasil di atas tahapan berikutnya adalah memcermati hasil bentukan faktor yang terjadi berdasarkan loading setiap variabel dalam suatu faktor. Sebuah variabel dianggap dapat mewakili faktor yang terbentuk jika memiliki nilai loading lebih besar dari 0,5. Tabel di bawah ini menunjukkan besarnya koefisien tertinggi pada masing-masing variabel di setiap faktor setelah dilakukan rotasi varimax. Tabel berikut ini juga akan menunjukkan susunan pertimbangan yang terjadi atas pembentukan sikap pada pembeli sepeda motor Sanex.

Tabel 8.    Hasil Loading Faktor Sepeda Motor Merek Sanex

Faktor Atrribut %Keragaman Total Loading
1 Harga 41,597 0,870
Mesin 0,865
Model 0,784
Bahan Bakar 0,747
2 Merek 18,077 0,858
Purna Jual 0,841
3 Label 13,032 0,801
Warna 0,663
Serbaguna 0,526

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Ringkasan tabel diatas menunjukkan bahwa pertimbangan utama pada konsumen sepeda motor Sanex adalah harga, mesin, model dan bahan bakar.

Pengujian Hipotesis Kedua

Dari hasil perhitungan nampak bahwa rata-rata yang ada pada perhitungan nilai norma subyektif untuk lingkungan sosial konsumen yaitu anggota keluarga, orang lain, relasi dan tenaga penjual seluruhnya memberikan nilai positif. Pada hipotesis kedua ini pengujian dilakukan dengan menggunakan analisis regresi pengaruh norma subyektif terhadap keputusan pembelian produk sepeda motor baik Kanzen maupun Sanex.

Tabel 9. Hasil Analisis Regresi Antara Norma Subyektif Dengan Sikap Pembelian Sepeda Motor Kanzen

Norma Subyektif B Standard Error Beta Thitung Sig.t
Keluarga 2,072 0,276 0,501 7,507 0,000
Orang Lain 0,861 0,553 0,103 1,557 0,126
Relasi 2,822 0,810 0,230 3,484 0,001
Penjual 2,108 0,255 0,533 8,256 0,000
Multiple R = 0,915
R2 = 0,837
F = 57,935
Sig.F = 0,000
Ftabel = 2,198
Ttabel = 1,661

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui di kelompok sepeda motor Kanzen koefisien korelasi berganda antara norma subyektif dengan sikap pembelian adalah 0,915 menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat. Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,837 menunjukkan bahwa proporsi kemampuan norma subyektif dalam menjelaskan sikap pembelian sepeda motor Kanzen adalah sebesar 83,7%. Nilai F-hitung sebesar 57,935 dengan sig.F = 0,000 (<a=0,05) menunjukkan bahwa norma subyektif, secara statistik terbukti mampu menjelaskan sikap pembelian sepeda motor Kanzen.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui di kelompok sepeda motor Sanex koefisien korelasi berganda antara norma subyektif dengan sikap pembelian adalah 0,919 menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat. Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,845 menunjukkan bahwa proporsi kemampuan norma subyektif dalam menjelaskan sikap pembelian adalah sebesar 84,5%. Nilai F-hitung sebesar 61,459 dengan sig.F = 0,000 (<a=0,05) menunjukkan bahwa norma subyektif, secara statistik terbukti mampu menjelaskan sikap pembelian sepeda motor Sanex.

Tabel 10.  Hasil Analisis Regresi Antara Norma Subyektif Dengan Sikap Pembelian Sepeda Motor Sanex

Norma Subyektif B Standard Error Beta Thitung Sig.t
Keluarga 2,341 0,273 0,552 8,561 0,000
Orang Lain 1,408 0,545 0,166 2,584 0,013
Relasi 2,193 0,462 0,306 4,747 0,000
Penjual 1,773 0,268 0,428 6,613 0,000
Multiple R = 0,919
R2 = 0,845
F = 61,459
Sig.F = 0,000
Ftabel = 2,198
Ttabel = 1,661

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

Dari uraian di atas ternyata hipotesis kedua yang menyatakan bahwa lingkungan sosial konsumen berpengaruh terhadap norma subyektif konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian produk sepeda motor bebek merek Kanzen dan Sanex adalah dapat terbukti.

Pengujian Hipotesis Ketiga

Perbedaan sikap yang terjadi pada kedua kelompok konsumen sepeda motor Kanzen dan Sanex diuji dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Uji Mann-Whitney adalah salah satu uji statistik non parametrik, dimana persoalan terhadap distribusi dari data yang ada tidak menjadi suatu persoalan yang diwajibkan.

Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata kedua kelompok ini memiliki kesamaan sikap dalam pembelian sepeda motor Kanzen atau Sanex. Hal ini ditunjukkan oleh nilai sig.Z di seluruh attribut sikap bernilai lebih besar dari a=0,05. Sehingga hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan sikap konsumen terhadap attribut sikap pada produk sepeda motor bebek merek Kanzen dan Sanex adalah dapat terbukti.


Tabel 11. Hasil Uji Perbedaan Sikap Konsumen Pada Sepeda Motor Kanzen Dan Sanex

Attibut Sikap Sepeda Motor Rata-rata Rangking Wilcoxon z Sig.Z
  • § Harga
Kanzen 48,67 2433,50 0,643 0,520
Sanex 52,33
  • § Model
Kanzen 48,73 2436,50 0,624 0,533
Sanex 52,27
  • § Bahan Bakar
Kanzen 51,00 2500,00 0,176 0,861
Sanex 50,00
  • § Mesin
Kanzen 48,22 2411,00 0,805 0,421
Sanex 52,78
  • § Purna jual
Kanzen 50,24 2512,00 0,094 0,925
Sanex 50,76
  • § Warna
Kanzen 47,48 2374,00 1,096 0,273
Sanex 53,52
  • § Merek
Kanzen 48,48 2424,00 0,745 0,456
Sanex 52,52
  • § Label
Kanzen 46,81 2340,50 1,319 0,187
Sanex 54,19
  • § Serba guna
Kanzen 47,22 2361,00 1,249 0,212
Sanex 53,78

Sumber : Data primer diolah. (Januari, 2003)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:

  1. Sikap konsumen sepeda motor bebek merek Sanex maupun Kanzen memang mempertimbangkan attribut harga, model, keiritan bahan bakar, performasi mesin, layanan purna jual, warna, merek, label, dan serbaguna. Pertimbangan utama lebih nampak pada attribut harga. Atau dengan kata lain atribut yang digunakan sebagai variabel menunjukkan positif secara keseluruhan atribut, namun atribut harga mempunyai nilai sikap positif yang paling tinggi dibanding dengan atribut yang lain baik pada sepeda motor bebek merek Sanex maupun pada sepeda motor bebek merek Kanzen.
  2. Sikap untuk membeli sepeda motor bebek memang dipengaruhi oleh norma subyektif konsumen yang terdiri atas anggota keluarga, orang lain, relasi dan tenaga penjual dalam melakukan keputusan pembelian produk sepeda motor merek Sanex dan Kanzen. Variabel yang dominan untuk sepeda motor merek Sanex adalah anggota keluarga, sedangkan untuk sepeda motor merek Kanzen variabel yang dominan adalah tenaga penjual.
  3. Tidak dijumpai perbedaan yang berarti pada sikap seorang konsumen untuk membeli sepeda motor bebek merek Sanex maupun Kanzen, hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig. Z diseluruh atribut sikap terhadap produk sepeda motor yang diteliti bernilai > dari a = 0,05 (Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata kedua kelompok yang diteliti ini memiliki kesamaan sikap dalam pembelian sepeda motor merek Sanex ataupun merek Kanzen)

Saran-saran

  1. Untuk menghadapi persaingan di era global yang semakin ketat, maka perushaan sepeda motor harus selalu meningkatkan inovasi produknya guna memperpanjang daur hidup produk dalam pasar.
  2. Bagi peneliti berikutnya disarankan untuk meneliti sikap konsumen dengan memperhatikan data-data berdasarkan jenis/karakteristik demografi konsumen serta perlu adanya batasan kapan terakhir kali konsumen menggunakan produk yang menjadi obyek penelitian sehingga tidak menimbulkan bias pada hasil penelitian.
  3. untuk peneliti berikutnya disarankan lebih mengembangkan “model angka ideal”, karena model ini berguna untuk mengetahui informasi berkenaan dengan “merek ideal” dari suatu produk (menurut model ini semakin dekat penilaian aktual suatu merek dengan penilaian ideal, maka sikap tersebut semakin mendukung)

DAFTAR PUSTAKA

Alpert, H. Frank, and Michael A. Kamins, 1995, An Empirical Investigation of Consumer Memory, Attitude, and Perception Toward Pioner and Follower Brand, Journal of Marketing, Volume 59, October

Assael, Henry, 1987, Consumer Behavior and Marketing Action, Third Edition, Wardsworth Inc., Boston.

Azwar, Saifudin, 1988, Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya, Edisi Pertama, Liberty, Yogyakarta.

Dharmmesta, Basu Swastha, 1992, Riset Tentang Minat dan Perilaku Konsumen: Sebuah Catatan dan Tantangan Bagi Peneliti yang Mengacu pada Theory of Reasoned Action, Journal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, FE-UGM, No. 1 tahun ke VII.

…………., 1994, Perilaku Konsumen Indonesia Tahun 2000, Kelola Gajah Mada University Business Review, No. 6/III/Mei.

………….dan T. Hani Handoko, 1997, Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen, Penerbit BPFE, Yogyakarta, Edisi Pertama Cetakan ke-2.

…………, 1997, “Keputusan-keputusan Strategik Untuk Mengeksplorasi Sikap dan Perilaku Konsumen”, dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Fakultas Ekonomi UGM, Vol. 12, No. 3.

Bentler, P.M. and George Speckart, 1979, Models of Attitude-Behavior Relation, Journal of American Psychological Association, Volume 86/5.

Djarwanto, Ps., 1997, Statistik Non Parametrik, Edisi Tiga, BPFE UGM, Yogyakarta.

Donthu, Naveen and David Gilliland, 1996, Observation: The Infomercial Shopper, Journal of Advertising Reseacht, Volume 36, March

Dhabolkar, Pratibha A., 1994, Incorporating Choice Into An Attitudinal Frame Work: Analyzing Model of Mental Comparison Process, Journal of Consumer Research, Inc. Volume 21, June

Engel, James F, Blackwell Roger D, Miniard, Paul W, 1994, Perilaku Konsumen, Alih Bahasa F.X. Budiyanto, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.

Fishbein, Martin, 1967, A. Behavior Theory Approach to The Rebitions Beliefs About and Object and the Attitude Toward the Object, in Martin Fishbein (ed.), Reading Attitude Theory and Measurement, Wiley, New York.

…………. & Ajzen, 1975, Belief, Attitude, Intention and Behavior : An Introduction to Theory and Research, Addison Wesley Publishing Company.

Hadi Sutrisno dkk, 1996, Buku Manual SPS (Seri Program Statistik), Paket Midi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Hart, Norman A., Stapleton, John, 1995, Kamus Marketing, Alih Bahasa Anthony Than dan A. Subekti, Bumi Aksara, Jakarta.

Jawa Pos, 2002, Jor-joran Rebut Semester Kedua, Senin 17 Juni.

…………, 2002, Dari Jakarta Motorcycle Show, Selasa 23 Juli.

Kasali, Rhenald, 1993, Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, Penerbit P.T. Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, Cetakan ke 3.

Kinnear, Thomas C., 1995, Riset Pemasaran, Alih Bahasa Yohanes Lamaseto, Penerbit Erlangga, Cetakan ke 3.

Kompas, 2002, Penjualan Sepeda Motor Naik 50 Persen (Indonesia Produsen Ketiga Terbesar), Sabtu, 23 Juli.

Kotler, Philip, 1998, Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan, Implementasi dan Kontrol, Edisi Kesembilan (Edisi Indonesia), Alih Bahasa Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli, Penerbit Prenhalindo, Jakarta.

Loudon, David L. & Della Bitta, Albert J., 1993, Consumer Behavior; Concepts and Applications, McGraw-Hill, Inc. 4th Edition International Edition.

Malang Pos, 2002, Sanex Luncurkan Sierra dan Gamma Prestige, Selasa Pon 11 Juni.

Malhotra, Nareshk, 1996, Marketing Research, an Applied Orientation, Prentice-Hall, Inc., Second Edition, Singapore.

Miller, Nancy and Rita C. Kean, 1997, Factor Contributing to Inshopping Behavior in Rural Trade Area: Implication for Local Retailers, Journal of Small Business Management, Volume 35, April

Permanadeli, 1998, Risa, Studi Eksperimen tentang Pengaruh Pesan Penjual terhadap Sikap Positif Kosmetika Buatan Dalam Negeri, Jurnal Psikologi, No.1/1988, UGM, Yogyakarta.

Schiffman, Lion, G, and L. Kanuk, 1994, Consumer Behavior, Fifth Edition, Prentice Hall International, Inc., New York.

Sekaran, Uma, 1992, Research Methods For Business : A Skill Building Aproach (Second Edition), John Wiley & Sons, Inc., New York.

Siegel, Sidney, 1997, Statistik Non Parametrik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetaka VII, Jakarta.

Sofian, 1996, Sikap Konsumen Terahadap Atribut Sabun Mandi Lux, Giv, Lifebuoy dan Camay di Kodya Bengkulu, Thesis, Program Pasca Sarjana Unair, Surabaya.

Stanton, William J., 1993, Prinsip Pemasaran, Edisi ketujuh, Erlangga, Jakarta.

Sugih Arto P., 1998, Analisis Positianing dan Segmentasi Pasar Sepeda Motor Tipe Bebek Yang Dipasarkan Tahun 1997 di Kotamadya Malang, Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Syamkhin, M., 1999, “Analisis Sikap Konsumen Dalam Keputusan Pembelian Mobil Niaga (Merek Suzuki dan Daihatsu) di Kotamadya Malang”, Tesis Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Tempo, 2000, Honda Katanya, Cina Asalnya, 7 Mei.

…………, 2001, Belajar dari Tragedi Kamboja, 29 Juli.

Tjiptono, Fandy, 1998, Strategi Pemasaran, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

…………, 2000, Prinsip dan Dinamika Pemasaran, J & J Learning, Yogyakarta.

Tri Cahyono, Bambang, Riset Pemasaran dan Kumpulan Tulisan Ilmiah, Badan Penerbitan IPWI, Jakarta, 1999.

Umar, Husein, 1997, Metodologi Penelitian Aplikasi Dalam Pemasaran, Penerbit P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Winarsunu, Tulus, 1996, Statistik: Teori dan Aplikasinya dalam Penelitian, Jilid 2, UMM Press, Malang.

Zulfa, M., 1995, “Sikap Konsumen Terhadap Shampo Merek Sunsilk, Clear, Rejoice dan Dimension di Kotamadya Semarang”, Tesis Program Pascasarjana UII, Yogyakarta.